Karimunjawa (27-30 Sept 2016)

Karimunjawa (27-30 Sept 2016)

Yeay! Alhamdulillah, impian ke Karimunjawa dari jaman kuliah akhirnya tercapai juga. Dulu itu mikirin perjalanan yang cukup ribet, belum lagi adanya kemungkinan gak bisa pergi atau pulang dikarenakan cuaca yang tidak mendukung. Bahkan rencana perjalanan kali ini saja sampai gak berani terlalu diceritakan ke orang lain karena takut gak jadi. Hihi…

Empat puluh hari kepergian Bundo jatuh pada tanggal 25 Sept 2016. Kami sekeluarga berencana untuk sekalian melakukan liburan bersama. Setelah melakukan diskusi, kami memutuskan untuk ke Karimunjawa. Segala persiapan kami lakukan dengan searching2 pengalaman orang dan cari-cari penginapan di booking.com.

Buat kamu yang berencana ke Karimunjawa, sebaiknya baca-baca dulu pengalaman orang lain, terutama jika kamu tidak ingin menggunakan jasa travel. Sharing pengalaman kami berikut ini mungkin bisa membantu kamu dalam membuat itinerary. 🙂
Kalau ada pertanyaan juga boleh disampaikan di comment atau cari saja kontak saya. Haghag.

Awalnya kami mencari tahu tentang jadwal kapal terlebih dahulu. Dalam hal ini saya cuti 5 hari kerja, Senin-Jumat sehingga kami harus menyesuaikan dengan jadwal kapal yang tepat. Sebenarnya kami prefer berangkat dan pulang dari Kendal karena lebih dekat. Namun karena kami bawa mobil sehingga harus start dan finish di pelabuhan yang sama, maka kami memilih Jepara karena jadwal kapalnya lebih banyak dan lebih memungkinkan. Jalur Kendal sendiri lebih sepi dari Jepara. Tapi karena kami datang saat weekdays, jadi di Jepara juga tidak terasa ramai.

Okay, saya akan mulai sharing pengalaman kami sekeluarga (berempat) ke Karimunjawa. Start point saya dari Jakarta, yang lain dari Bandung. Kami bertemu di Pemalang untuk 40 harian Bundo dulu. Kemudian, kami menggunakan mobil sebagai transportasi ke Jepara.

Samudra Hotel, Jepara

Kami sudah booking penginapan di Samudra Hotel yang letaknya di dalam kawasan wisata Pantai Kartini, bersebelahan dengan Pelabuhan Kartini.

Review Hotel Samudra
Plus:
+ Lokasi sangat dekat dengan pelabuhan, jadi keesokan harinya bisa gak terlalu diburu-buru.
+ Kamar tidur dan kamar mandinya cukup besar.
+ Harga murah.
+ Ada parkir mobil, cukup untuk 3 mobil.
+ Staffnya cukup ramah walau setiap mau sesuatu harus dicari dulu karena mereka gak spontan menghampiri ketika kita mendatangi meja resepsionis. Saya cukup senang karena staffnya mau menawarkan pindah kamar.

Minus:
– AC kurang dingin. Setiap kali ingin menginap di hotel biasa dan ingin kamar ber-AC, sebaiknya dipastikan dulu apakah ACnya menyenangkan. Awalnya kami dapat kamar yang ACnya sangat panas, bahkan angin pun kecil sekali. Akhirnya, saya sempatkan untuk komplain dan kebenaran ada 1 kamar serupa yang kosong. Di kamar yang satunya, ACnya lebih baik sehingga kami gak kepanasan. Sayang aja gitu kan kalau sudah pakai kamar AC tapi gak adem. 😀

Terdapat penginapan lain di dekat Hotel Samudra tapi kami tidak sempat untuk menanyakan lebih lanjut. Awalnya memilih Hotel Samudra ini karena murah dan ada kamar besar untuk berempatnya.

Malam sebelumnya menyeberang, kami sudah melakukan survei lokasi Pelabuhan Kartini. Pihak Hotel Samudra sempat menyatakan bahwa penitipan mobil di Pelabuhan 70.000/2 hari. Kalau di Hotel Samudra hanya 70.000 sampai kembali. Ternyata, setelah di pelabuhan aslinya hanya Rp 50.000 sampai kembali.

Hari Selasa, jadwal kapal ferry berangkat jam 7 pagi dan kapal cepat berangkat jam 9 pagi. Lama perjalanan kapal ferry sekitar 4 jam, sedangkan kapal cepat sekitar 2 jam. Kami naik kapal Express Bahari berangkat sekitar pukul 9.15 tiba sekitar pukul 11.15. Jadwal penyeberangan dengan kapal bisa digoogling. Pastikan merencanakan jadwal berangkat dan pulang dari Karimunjawa. Kami sendiri sudah merencanakan untuk menyeberang ke Karimunjawa Hari Selasa dan balik dari Karimunjawa pada Hari Jumat. Bagi kamu yang mabuk laut, sebaiknya mempersiapkan antimabuk. Untuk airport sendiri lokasinya cukup jauh dari pusat kota, sekitar sejaman.

Cocohuts Inn

Setiba di Pelabuhan Karimunjawa (letaknya di timur), sudah ada beberapa penjemput dengan papan nama penginapan masing-masing. Kami menghampiri mas-mas yang memegang papan Cocohuts. Namanya Mas Ridho. Dari Pelabuhan ini, jika kita melihat ke arah bukit, Cocohuts akan terlihat berupa bangunan kayu yang terletak di atas. Ternyata, posisinya memang cukup tinggi. Dari parkiran masih harus naik lagi melewati jalan berbatu ke resto/kamar yang di atas. Kami menempati kamar bungalow dengan extra 1 bed. Kamar itu aslinya cuman untuk berdua. Tapi, isinya ada 2 lantai. Lantai 1 ruang tamu dengan sofa cukup lebar bisa buat tidur, ada TV, VCD player, juga kipas angin. Lantai 2 adalah kasur untuk tidur beserta AC. Ada balkon di lantai 1 dan 2 untuk melihat pemandangan di luar. Cocohuts ini tidak direkomendasikan untuk dikunjungi oleh orang tua. Mungkin kalau menginapnya di kamar yang ada dekat parkiran masih ok. Tapi kalau yang lokasinya di atas kasihan sih kalau orang tua. Hegheg.

Pada dasarnya setiap penginapan punya referensi paket tur laut. Kamu bisa tanya-tanya dan bandingkan harganya. Saat weekdays, seharusnya kamu bisa nego-nego karena pengunjung sepi. Mas Ridho sempat menawarkan paket tour laut private. Sebelumnya kami sudah melakukan komunikasi dengan travel lain, yaitu Pak Anto (pemilik penginapan Wisma Salami). Menurutku, penawaran dari Pak Anto ini yang paling rendah.

Review Cocohuts Inn
Plus:
+ Pemandangan sangat indah dari atas bukit yang tinggi. Hamparan laut membentang dari timur ke barat. Fresh banget rasanya.
+ Bungalownya cocok banget buat keluarga karena ada 2 lantai dan tidak sempit.

Minus:
– Lokasi berada cukup tinggi, tidak disarankan untuk orang tua yang tidak bisa mendaki. Kalau menginap di kamar dekat lobby masih oke. Tapi kalau mau cari wifi baru bisa terjangkau di resto yang letaknya di atas.

Sesuai rencana, kami menyewa motor untuk tur darat. Mas Ridho bertugas di Cocohuts hanya sampai jam 11 sehingga dia ikut tur darat menjadi guide dan tukang foto kami. 😀
Kamu bisa lihat di google peta Karimunjawa. Tanpa tour guide pun kamu bisa keliling-keliling sendiri.

Bukit Joko Tuwo

Namanya juga bukit, jadi letaknya di atas. Hegheg. Perjalanan menuju bukit cukup menanjak. Saat itu ada lalu lalang mobil berat yang sedang melakukan pekerjaan sehingga kami parkir di tempat yang lebih rendah, tapi untuk menuju lokasi perlu menaiki tangga-tangga terlebih dahulu. Di Bukit Joko Tuwo ini ada banyak spot-spot buat foto, seperti foto dengan bangkai ikan hiu, naik ayunan kapal, ayunan biasa dengan pohon tak berdaun, tasbih raksasa, sarang burung, bingkai love, dan foto di balkon. Ohya, di bukit ini banyak jambu mete. Kalau Dady dan kakak2ku sih doyan. Aku kurang sreg karena sepet. Highig.

Bukit Love

Jalan menuju bukit ini juga cukup menanjak. Bahkan ke bukitnya kami ber5 dengan 2 motor 😀
Ada spot foto dengan bendera, ikan kakatua, sarang burung, tulisan Karimunjawa dari batu, dan tulisan Bukit Love. Masuk sini dapat air mineral. Hehe..

Pantai Tanjung Gelam

Pantai ini biasa menjadi salah satu destinasi tur laut. Namun, kali ini kami menuju kesana dengan motor, datang dari arah timur kita belok kiri. Ada bayarnya tapi saya gak tahu berapa, dapat air minum lagi. ^^
Di pantai ini yang terkenal adalah pohon kelapa melengkung. Kita juga bisa memanjat pohon ini, sudah ada pijakan-pijakan buat manjatnya. Namun agak licin sehingga agak sulit juga manjatnya. Hehe..

Alun-alun Karimunjawa

Jangan bayangkan alun-alun yang besar seperti biasa kita lihat di ibukota 😀
Alun-alun Karimun jawa hanya 1 lapangan sepak bola kecil dengan penjual makanan yang memenuhi hanya setengah keliling alun-alun. Pilihan makanan pun tidak terlalu banyak. Pada hari ini kami kesampaian untuk mencoba mi ayam baso ikan yang tidak kami temukan lagi selanjutnya. Huhu.. Jadi, kalau kamu ketemu sama penjual mi ayam baso ikan ini, saya sarankan untuk mencobanya. Enak, loh. Mi ayamnya juga mi ayam beneran. Haghag (mi bo’ongan kayak apa coba). Mie-nya sesuai dengan mi ayam yang pertama kukenal dalam hidup gitu, lo. Gak kayak mie ayam yang belakangan ditemui, mie-nya beda.

Wisma Apung

Kami menginap di Wisma Apung Ibu Nurul. Pada saat kami kesini, bapaknya Ibu Nurul sedang ada di wisma. Katanya beliau mau memperbaiki ada yang rusak. Bapak ini jg mengisi waktunya dengan memancing. Ikan yang diperoleh dijadikan makanan hiu dan tambahan ikan di penangkaran. Wisma apung ini terletak di laut, sehingga perlu memakai kapal untuk menuju kesana. Kami menginap disini 1 malam saja. Sebelumnya kami berencana 2 malam karena berpikir capek pindah-pindah penginapan terus.

Wisma Apung melayani sekali transportasi gratis dari/ke Wisma Apung. Di luar itu, kalau mau menyeberang dikenai biaya 10.000/orang. Kami menuju Wisma Apung dengan kapal sewaan Pak Anto. Dari pelabuhan Karjaw ke Wisma Apung menaruh barang-barang dahulu sebelum melakukan tur laut. Jadi kami masih punya jatah penyeberangan gratis saat pulangnya.

Review Wisma Apung

Plus:

+ Ada penangkaran ikan hiu, kalau kamu gak sempat ke menjangan besar, kesini juga sudah cukup dan tidak perlu bayar lagi. Kalau ke Menjangan Besar harus bayar Rp40.000 untuk berenang dengan ikan hiu.

+ Bangun tidur bisa langsung nyebur karena lokasinya enak banget di laut yang tidak terlalu dangkal dan tidak terlalu dalam, kedalaman sekitar 1 meter. Pada pagi hari airnya agak pasang jadi lebih enak untuk rendam-rendam kaki dan berenang. Tapi mungkin buat beberapa orang kurang sreg nyebur disini karena saluran pembuangan kamar mandi langsung ke laut juga.

+ Adem. Bahkan saya yang di kamar AC tapi ACnya tidak dinyalakan pun tidak kepanasan. Cuman ya sayang aja udah bayar dengan harga kamar AC. Haha..

Minus:

– Lokasi jauh dari pusat kota, harus pakai kapal/perahu. Kami sempat kesulitan mencari makan malam karena tidak memesan dari awal sehingga waktu itu ada perwakilan kami yang ke darat untuk mencari makan. Namun jika kita sudah memesan dari pagi/siang, sebenarnya pihak Wisma Apung bisa menyediakan makan malam. Segala sesuatu di Wisma Apung ini berasal dari darat juga. Contohnya saja saat kami belum mendapat handuk, maka Mas2nya harus mengambil ke darat dulu.

– Setiap ada yang jalan di dekat kita akan terasa goyangannya. Apalagi saat itu aku habis mabuk laut jadi rasanya kayak goyang-goyang terus. Haha..

Untuk tour laut, penawaran Pak Anto adalah sbb.

Saya sempat mencoba nego dan diberi penawaran Rp 970.000,-. Kupikir sudah cukup murah karena sudah turun dari kalkulasiku. Sayangnya, kita tidak menegaskan dari awal itinerarynya. Saran saya, buat kamu yang juga ingin private tour, sebaiknya dipertegas breakdown paket tournya supaya tidak merasa rugi ketika actualnya tidak sesuai rencana awal. Jika kamu datang saat weekdays, mungkin kamu bisa mencoba tour yang diprovide oleh Karimun Lumbung karena info dari Dady bahwa mereka tidak membuat kuota minimal agar bisa berangkat tur laut. Jadi walau hanya 1 orang pun tetap jalan. 😀

Biasanya, tour laut itu mengunjungi 2 pulau, 2 spot snorkeling, dan 1 pantai sunset. Malam sebelumnya bertemu dengan Pak Anto, sebenarnya kami berencana ke pulau yang di timur karena katanya lebih bagus terumbu karangnya. Sayangnya, ketika kami berangkat, cuaca cukup mendung dan sempat hujan kecil. Angin bertiup dari arah timur sehingga jika mau ke timur akan lebih sulit. Maka rencana pun tetiba berubah menjadi ke barat. Kami sempat menunggu cuaca membaik di Wisma Apung. Ketika sudah cukup cerah, kami memulai perjalanan. Ada 3 tour guides. Di perjalanan, ombak mulai membesar, gerimis, lalu menjadi hujan besar. Kami tetap berada kapal bagian atas sehingga kehujanan. Alhasil, saya malah pusing dan mulai mabuk. Saya tidak mampu berlama-lama snorkeling di spot pertama ini karena mulai mual dan akhirnya muntah juga. -_- #sosad

Bahkan sampai pucat dan menggigil. Pada saat itu, saya merasa benar-benar tak berdaya. Huhu… Maka, saya pun tidak ada foto snorkeling di spot pertama ini.

Pulau Cemara Kecil

Kapal tidak bisa bersandar karena tidak ada dermaga. Jadi, kapal berhenti di tengah laut lalu kita harus berjalan ke pulau.Oleh karena kondisiku sangat lemah, maka saya pun naik kano dan didorong sampai pulau. Saat itu benar-benar situasi yang sangat menyedihkan buatku, bahkan sampai dibopong sama kakakku sampai tempat peristirahatan. Saya langsung tepar di tikar dan istirahat karena sangat pusing. Ketika sudah tidur dan makan, kondisiku mulai membaik. Sedikit masih merasa oleng saja. Disini kami makan siang BBQ ikan bakar ditemani nasi, sayuran, sambal 2 jenis (selalu ada 2 jenis sambal ini di Karimunjawa), semangka, dan kerupuk. Hmm…. Yummy! Mas2nya yang bakarin ikannya sih, kita terima jadi aja. Haghag.

Sebelum tur laut, saya sudah memakai baju untuk basah-basahan di dalam baju kering. Saya sudah siapkan peralatan jikalau nanti perlu untuk ganti baju. Saya sarankan teman-teman juga mempersiapkan baju ganti. Hal ini untuk menghindari kedinginan/masuk angin saat perjalanan di kapal. Jadi saat mampir pulau bisa jemur baju yang basahnya untuk bisa dipakai lagi saat baju satunya gantian basah. Hehe..

Snorkeling

Dengan kondisi yang sudah membaik, saya gak mau tur laut ini sad ending. Haghag. Di spot kedua, saya mulai snorkeling lagi dan alhamdulillah dapat foto yang oke juga walau gak bisa berenang. ^,^

Buat kamu yang masih takut/gak bisa berenang, yakinkan diri bahwa ini kesempatan langka yang bisa kamu alami. Jadi sebisa mungkin sempatkan snorkeling dan berfoto sampai dapat foto yang bagus. 😀

Siapkan pose terbaik, kalau bisa snorkeling tanpa kacamata juga. Saya pun ada foto tanpa kacamata, tapi karena kerudungnya kurang bagus disitu jadi gak diposting. Hegheg.

Jujur saja, saya sendiri saat snorkeling tidak begitu kelihatan pemandangan bawah lautnya. Ntah karena rabun jg kali. Hag. Jadi baru merasa amazingnya malah setelah melihat hasil fotonya. Haghaghag.

Pulau Menjangan Kecil

Pulau ini adalah tempat terakhir tur kami. Disini ada resort dan ayunan yang dibuat di tengah laut. Kami menikmati sunset disini. Setelah itu, kami kembali ke Wisma Apung dan terjadi tragedi kebingungan soal makan malam yang tidak disiapkan sebelumnya. Haghag.

Karimun Lumbung

Disini ada 5 kamar lumbung, semuanya fasilitas AC. Satu lumbung dipakai sendiri jadi hanya ada 4 lumbung available. Kalau lihat di booking.com, biasanya sudah penuh. Tapi ketika kami datang langsung, ternyata masih ada kosong. Jadi, buat kamu yang mau mencoba menginap di tempat lain, bisa coba saja datangi langsung. Lagian kalau di booking.com biasanya tertulis tidak bisa extra bed. Padahal kenyataannya, apalagi saat weekdays, extra bed masih diperbolehkan dan biasanya masih banyak kamar kosong. Saran saya, jika kamu juga mau tur darat dulu saat baru datang, sekalian kelilingin Karimunjawa lihat-lihat penginapan yang ada disana. Siapa tahu tertarik untuk menginap di tempat lain esoknya, bisa langsung tanya-tanya. Kalau malam pertama saran saya sudah booking 1 tempat saja jadi bisa dijemput juga di pelabuhannya karena biasanya setiap hotel/penginapan menyediakan antar-jemput.

Review Karimun Lumbung

+ Desainnya unik, cocok buat foto-foto.

+ Dekat dengan pusat kota.

+ Boleh minta minum (teh, jahe, kopi, etc.) sesuka hati. Tapi gak boleh bikin/ambil sendiri jadi ya kitanya gak enak juga kalau mau minta sering2. Haghag. Namun pas pagi hari gak ada petugas, kami akhirnya ambil sendiri juga sih. 

+ Menyediakan tur laut tanpa kuota minimal. Biaya tur laut Rp 170.000/orang.

– Ada nyamuk. Di dalam kamar sudah disediakan semprotan nyamuk juga.

Itinerary kami awalnya mau tur laut 2 hari. Namun, karena semuanya sudah merasa cukup dengan 1 hari tur kemarin dan biaya cukup mahal juga kalau mau 2 hari (kami terlambat tahu Karimun Lumbung menyediakan tur tanpa kuot), maka kami memutuskan untuk sewa motor lagi. Sewa motornya dihitung 24 jam. Kami sewa dari jam 1 siang. Jadi esok harinya masih bisa dipakai. Biaya sewanya sama dengan waktu di Cocohuts. Mungkin kalau dinego juga bisa kali. Tapi, motornya bagusan yang Cocohuts. Highig. Motor Cocohuts masih baru. Sedangkan motor yang kami sewa kedua ini lebih tua dan tidak kuat jalan rusak, esokannya kempes makanya kami gak jadi jalan2 bareng besoknya. ^^”

Dari Karimun Lumbung kita dikasih peta, tapi tur darat yang ingin kami jalani sudah tidak terbaca di peta tersebut karena sudah agak jauh dari pusat kota. Ada 2 pilihan, yaitu arah timur ke pantai sunrise atau ke barat dengan banyak destinasi, hutan mangrove, pantai2, hingga airport. Kami memilih untuk tracking Mangrove dan ke Pantai Annora. Silakan googling atau instagraman dulu sebelum memilih destinasi.

Tracking Mangrove

Pilihan wisata darat selain yang telah disebutkan di atas adalah tracking hutan mangrove dan beberapa pantai. Kami memilih untuk ke Hutan Mangrove terlebih dahulu. Perjalanan ke arah barat sekitar setengah jam. Awalnya jalanan mulus, makin ke barat jalanan mulai rusak dan sangat tidak nyaman melewatinya. Oleh karenanya, kalau mau ke lokasi melewati jalan rusak ini, disarankan memakai kendaraan yang masih oke.

Panjang track Mangrove ini sekitar 1.3 km. Cocok buat olahraga pagi/sore. Tapi, nyamuknya juga lumayan banyak. Sebaiknya sudah prepare lotion anti nyamuk. Hihi.. Di tengah perjalanan kita akan menemukan menara cukup tinggi untuk melihat pemandangan dari atas. Pemandangan dari atas telihat cukup indah. Pepohonan mangrove yang bertebaran dan hamparan lautan. Disini bisa dijadikan untuk melihat sunset.

Pantai Annora/Hanora

Hari sudah sore ketika kami menuju pantai ini. Ternyata, dari jalan utama masuknya masih cukup jauh dan jalannya agak menyeramkan karena ada yang belum beraspal. Ketika kami tiba disana, suasana pantai sangat sepi. Di pantai ini ada ayunan di atas air dan taman batu kecil.

Ada seorang bapak yang menyarankan kami untuk naik ke bukit. Ternyata, pemandangan dari bukit ini tidak mengecewakan. Lautan jernih berwarna degradasi hijau-biru yang sangat cantik. Aaahh.. Belum pernah melihat yang seindah ini. Masya Allah..

Ohya, ada wisata darat yang tidak kami kunjungi, yaitu Taman Kupu-Kupu. Sebenarnya kami ingin kesana esok hari sebelum kembali ke Jepara. Namun dikarenakan motor satunya kempes dan tidak ada pompa ban yang sudah buka, gak jadi deh.

Kalau Mas Okta belum pesan tiket pesawat balik ke Malay, mungkin kita extend 1 hari lagi disini. 😀

Explore Karimun jawa, one of unforgettable journey in my life with my lovely family. Can not wait for our next trip. 😉

Untuk rincian pengeluaran akan ditambahkan segera, ya.
Untuk foto-foto, silakan visit IGku dengan hashtag #littlestarvacation

Dimsum Choie, Surapati Bandung

Dimsum Choie, Surapati Bandung

Kalau dari arah Pasteur, lokasi terletak setelah Hotel Aston Surapati di kiri jalan. Ada plang bebek, suki, dimsum, masuk ke kiri. Dari luar sendiri gak ada tulisan Dimsum Choie-nya. Parkiran ada di dalam. Mungkin cukup untuk sekitar 6 mobil.

Harga dimsum 1 bakul 18 ribu.
Harga paket bebek 26 ribu.
Harga bakso suki 20 ribu.

Rasa makanannya lumayan oke. Dimsumnya lumayan enak. Bebeknya enak dengan bumbu pedas. Pas cobain bebeknya, ntah mengapa jadi lebih enak makan bebek daripada dimsum. Hihi.

Sorry to say, pelayanannya kurang bagus. Ketika kita datang tidak langsung disapa dan dilayani. Kita yg harus aktif duluan bertanya. Sebaiknya biasakan mengulang pesanan. Saat itu saya gak minta diulang karena masnya keburu caw. Alhasil, gak jadi makan bakso suki. Padahal pengen banget cobain. Kemudian, pesanannya lama datangnya. Padahal saat itu lagi sepi banget.

Kalau ditanya mau gak kesana lagi, sesungguhnya males, tapi mau aja kalau lagi gak dikejar waktu atau laper dan nyantai. Hihi.. Soalnya rasanya lumayan enak. Buat yang belum pernah kesana, saya rekomendasikan untuk mencoba kesana. Itung-itung buat bandingin rasa.

Foto-foto silakan visit my IG pakai hashtag #littlestarculinary.

Punya pengalaman makan dimsum/suki di tempat lain? Share yah. 🙂

#littlestarculinary
#littlestarculinarybandung
#dimsumchoie
#dimsumsurapati
#dimsumhalal

Review Dimsum Choie – Surapati Bandung

Location: 4/5
Parking: 4/5
Price: 4/5
Taste: 4/5
Service: 2/5

Sidang Tesis / Ujian Tertutup di IPB

Sidang Tesis / Ujian Tertutup di IPB

Pada akhirnya, aku baru bisa memberikan draft tesis sehari (atau dua?) setelah Semhas. Akhirnya, dosbingku memundurkan jadwal sidang seminggu dari rencana awal. Sudah kepepet waktu, drama kehidupan masih terus mengiringi. Sampai akhirnya dihadapi pada 2 pilihan. Maju terus dengan kecepatan 200 km/jam atau perlambat dan mungkin kamu bisa lebih tenang dan punya lebih banyak waktu.

Aku berada pada pilihan mempertahankan paper awal atau membuat paper baru. 22nya ada resikonya masing-masing. Aku memilih yang lebih simple, yaitu membuat paper baru. Dengan begitu, nilai publikasiku lebih rendah menggunakan paper baru. Jangan ditanya kenapa ini lebih simpel. Aku tidak ingin mengingat-ingatnya lagi sebenarnya. Akhirnya, paper yang kubuat adalah bersumber dari makalah Semhas yang belum dipublikasikan. Walau sudah ada bahan, tetap saja butuh waktu untuk menyesuaikan dengan format jurnal yang akan disubmit. Pada part ini, aku tidak ingin terlalu banyak sharing masalah yang kuhadapi. Terlalu pahit untuk dikenang kembali. #cie

Baik. Aku ingin berterima kasih sekali buat Yuyun yang sudah mendampingiku di hari H selama persiapan hingga akhir. Walaupun sehari sebelumnya dia sempat bilang ada kemungkinan gak bisa datang karena sedang sakit, Alhamdulillah esoknya dia sembuh setelah malamnya makan makanan bergizi. Haha. Belum lagi drama hujan saat di pom bensin dalam perjalanan akan ke kampus yang akhirnya aku naik Grab dan Yuyun membawakan motor ke kampus. Kukira dia bakal menunggu sampai hujan reda. Ternyata, dia pakai jas hujan menerobos hujan untuk bisa menyusulku sebelum mulai sidang. Huhu. Sungguh terharu. Hehe.. Aku sudah wanti-wanti Yuyun untuk selalu ada dari awal hingga akhir, bahkan saat waktu keluar menunggu pengumuman sidang. Aku bercandai supaya dia memimpin do’a bersama selama berlangsungnya sidang. 😀

Sidang berjalan lancar. Ya, sangat lancar bagi penguji, pembimbing, dan moderator mengkritik tesisku dan memberikan pertanyaan2 yang kurasa sangat tidak puas dengan jawabanku. Selama menunggu pengumuman, aku ingin menangis karena tidak yakin dengan apa yang telah berlalu selama proses sidang. Tapi, teman-temanku menenangkan supaya tidak menangis dulu. Yah, untung sudah terbiasa menahan tangisan jadi air matanya bisa ditarik lagi. #eh

Alhamdulillah wa syukurilah, moderator mengumumkan bahwa aku lulus dengan nilai yang di luar dugaanku. Aku merasa beliau-beliau memberikan nilai yang terlalu tinggi dibandingkan apa yang kulakukan selama sidang. Allahu Akbar. Terima kasih Ya Allah, Engkau mudahkan sidang yang berlangsung kurleb 1,5 jam dengan bapak-bapak ini. 

Jadi, waktu sidangku ini termasuk cepat dibandingkan dengan sidang2 yang biasanya berlangsung sekira 2 jam. Mungkin salah 1 faktornya karena sidang dimulai jam 3 sore. Selain itu, penguji memang hanya sedikit mengajukan pertanyaan. Dari waktu yang diberikan 30 menit (malah dapat info dari orang lain seharusnya 40 menit), sepertinya hanya digunakan 10-15 menit. 

Aku juga mau berterima kasih banget buat teman-teman yang sudah menyempatkan hadir. Teman2 TIP: Yuyun, Anitsa, Astri, Kak Fitri, Junervin. Teman2 Magister Pure It: Intan, Faiz, Ica, Moli, Nopal, Mary (nyampe selempang dan kadonya, haha). Padahal belum pernah kenal dan ketemu sebelumnya sama Ica dan Moli. ^^’ 

Makasih juga buat teman2 TIP, Magister Pure It, dan semuanya yang gak bisa disebutin satu2 buat ucapan, semangat, do’a, juga hadiah (#eh) yang diberikan 

Semoga Allah mudahkan langkah-langkah kalian semua dalam menyelesaikan studi di IPB ini dan urusan-urusan lainnya. Aaamiiin. I love you, all. :*

Fyi banget nih buat yang belum tahu (karena aku sendiri baru tahu di akhir-akhir setelah sidang juga), kalau ternyata tesis alias sidang itu bernilai 4 sks namun tidak memiliki nilai. Jadi, kita hanya perlu lulus. Tapi, di akhir sidang juga diberikan nilainya. Mungkin juga berpengaruh untuk status cumlaude(?). Ohya, buat kalian yang ingin mengusahakan cumlaude, lebih baiknya lagi cari info dulu ke pasca, ya aturannya seperti apa. Sepengetahuanku, syaratnya adalah nilai A untuk semua MK di bawah pasca (Kolokium, Publikasi, Semhas, Tesis) dengan masa studi maks 2,5 tahun. Please make sure pada surat edarannya, minta ke loket pasca.

Well, aku termasuk yang gak bisa cumlaude karena nilai publikasi B. Tapi ya sudahlah, cumlaude bisa menjadi salah satu jalan untuk mencapai kesuksesan, namun kesuksesan dapat tetap diraih tanpa status cumlaude, kan? 🙂 #berusahamenghiburdiri haha.

Setelah sidang, hati belum bisa tenang nih, guys. Kenapa? Karena harus revisi. Tanggal kelulusan kita adalah tanggal kita menyerahkan final tesis ke loket pasca yang sudah ditdt pembimbing. Selama masa revisi, kita harus berkoordinasi dengan penguji, pembimbing, dan moderator. Alhamdulillah, aku waktu itu dapat penguji Bapak Prof. Dr. Slamet Budijanto yang baik bangeeetttt. Bapaknya ini adalah WaDek Fateta bidang sumberdaya, kerja sama, dan pengembangan. Bapaknya fast response banget dihubungi lewat wa (jauh banget sama dosbing sendiri yang bisa berhari-hari gak dibaca #eh). Pertanyaan selama sidang sedikit tapi sangat kritis. Walaupun jawabanku sepertinya gak ada yang memuaskan, tapi tetap memberikan apresiasi nilai yang bagus. Udah gitu, perbaikan tesisnya di-ok-in aja dong. T_T

Sebelumnya sempat sedih karena gak jadi diuji sama Pak Meika, ternyata Allah gantikan dengan yang baik juga. So baper sama kebaikan Allah SWT. T_T

Okey, jadi revisi tesis ini maksimal 3 bulan dari tanggal sidang ya, guys. Kalau lebih, harus sidang lagi gitu katanya. Karena aku waktu itu diburu waktu juga untuk bisa tidak perlu bayar SPP, jadi 31 Agustus 2019 menjadi batas akhir dan mau gak mau harus dikumpulin. Yaa.. Walaupun drama masih terus berlanjut guys, bahkan hingga hari H pengumpulan final tesis. Tapi lagi2 gak mau diinget2 ah. Nulis gini aja sudah mengingatkan dengan sendirinya. Haha.

Well, gak lupa makasih juga buat orang tua dan keluarga yang sudah mendo’akan dari jauh. Do’a mereka juga yang Allah kabulkan sehingga semuanya bisa terselesaikan dengan baik. Alhamdulillah..

Ohya, btw, bagi yang sidang setelah tanggal 13 Okt 2019, gelarnya jadi M.T. Jadi, aku adalah satu-satunya lulusan TIP 2017 dengan gelar M.Si. Nah, siapa suruh kan cepat-cepat lulus. Gelar namanya jadi gak panjang dan lebih bervariasi, kan. Haha.

Buat kamu yang masih berjuang, semangat! Sedikit lagi. GWW (and wedding dais #eh) is waiting for your graduation. <^o^> 

Well, berikut step by step untuk melangkah ke sidang setelah semhas, ya.

  • Minta berkas ke prodi

Berkas meliputi formulir pendaftaran sidkom dan sidang. Jika perlu, juga dengan form klaim publikasi. Kalau aku dulu formulirnya diisi-isi aja dulu bagian yang sudah bisa diisi. Jadi, sewaktu-waktu mendapat kesempatan untuk disetujui oleh dosbing, bisa langsung sodorkan formulirnya untuk ditandatangani. Berkas untuk sidang ditdt prodi lalu diserahkan ke loket pasca. Ada juga persyaratan dari prodi seperti form bebas lab dan poster tesis. Tapi keduanya ini bisa nego untuk menyusul setelah sidang. Buat yang dari TSI juga harus melengkapi form tsb. Katanya sih dulu pernah ada kasus makanya jadi wajib juga untuk anak TSI. Dan, sebagai bukan anak lab basah, maka saya tidak mengenal laboran-laboran lab yang banyak itu kan. Haha. Dalam hal ini saya berterima kasih sama Andi Reza yang sudah menemani keliling mencari tdt. Jadi, saran saya sih minta tolong ke anak lab yang tau nama-nama laboran. Kebetulan Andi S1 TIN juga. Jadi, sudah tau ruangan-ruangan laboran. Alhamdulillah, waktu itu aku dipermudah juga dengan adanya laboran yang ketemu-ketemu di perjalanan. Karena Andi tau muka, jadi lebih cepat juga dapat tdtnya. Beberapa laboran juga suka nongkrong di suatu tempat gitu. Jadi, jangan berpatokan pada ruangan kerjanya saja. Untuk poster A4 juga dibuat seadanya aja, kok. Hihihi.

  • Klaim status terbaru publikasi

Status publikasi menjadi final ketika sidang. Jika ada status terbaru dari publikasi kamu dibandingkan saat mendaftar Semhas, maka dapat dilakukan klaim untuk perubahan nilai. Saat sidang, nilai-nilai sudah final, ya. Tahu kenapa? Yup, karena nilai sidang hanya L/BL (lulus/belum lulus) sehingga tidak akan mempengaruhi IPK akhir.

  • Tentukan jadwal sidkom dan sidang, serta dosen penguji

Sidkom S2 sebenarnya cukup 2x. Namun, kemarin aku sampai 3x karena kata Pak Chandra sidkom aja. Hehe. Jadi, misal dosbingnya mau ya mending sidkom aja. Tapi aslinya 2x pun cukup. Lagian sidkom itu menjadi latihan kolo/semhas/sidang juga. Pertanyaan-pertanyaan dari dosbing bisa jadi menjadi pertanyaan yang ditanyakan oleh penguji. Tapi, bisa jadi juga sidkom dan hari H sangat berbeda. Hahaha.

  • Minta tanda tangan pembimbing dan penguji

Oleh karena form sidang harus ditandatangan oleh semua pembimbing dan penguji, maka berburu tdt ini pasti dilakukan. Alhamdulillah waktu itu aku dapat penguji yang fast response banget wa-nya.

  • Daftar sidang ke loket pasca

Perhitungkan waktu untuk ini juga, ya. Kalau gak salah, standarnya 7 hari kerja deh. Namun, dalam kondisi mendadak, bisa juga sih jadi lebih cepat. Kayak aku kemarin. Tapi ya jadi capek sendiri gitu cek-cek ke loket. Yaa.. Namanya juga perjuangan kan. Hihihi…

  • Ambil undangan sidang dan berikan kepada yang bersangkutan

Inilah yang diambil dari loket pasca untuk diberikan pada yang bersangkutan ya, yaitu prodi (sebagai moderator), pembimbing, penguji, dan diri kita sendiri. Jangan sampai diri sendiri tidak hadir, ya. Haha.

  • Sebarkan draft tesis

Supaya efektif dan efisien, alangkah baiknya undangan dan tesis sekalian ngasihnya jadi gak bolak/ik gitu. Tapi, waktu itu aku undangannya nyusul karena baru dikasih H-1. Haha. Draft tesis sendiri tidak ada batas maksimal kapan diberikan. Namun, baiknya diberikan H-7. H-3 itu udah mepet banget, sih. Tapi kalau dosen yang emang sibuk dan tipe pasti dilihatnya juga mepet2, H-3 gak masalah menurutku. Karena pasti sama aja dicek-nya mungkin H-1. Hihi. Draft tesis kita sendiri yang memberikan pada yang bersangkutan ya, yaitu prodi, pembimbing, penguji, dan diri sendiri. Jangan kayak aku, saking mager nge-print (tidak untuk dicontoh), bawanya draft yang bukan final. Jadi sempat parah gitu waktu sidang. Syukurnya hanya 1x aja dibutuhkan buka2 draft tesis itu karena waktu itu ada typo di halaman tertentu. Jadi kita harus punya print draft untuk diri sendiri ya.

  • Good Luck on your day!

Be prepared ya! Siapin mental, siapin badan dan pikiran yang fit, yang paling penting DO’A. Do’a dari diri sendiri dan orang lain. Jadi inget kata guru SMA dulu waktu mau UN. Disuruh bikinin minum orang tua. 😀 Kalau lagi merantau, mungkin bisa melakukan amal-amal lainnya yaa. 🙂

  • Selesaikan hutang berkas ke prodi (form lab dan poster)
  • Revisi dan konsultasi final tesis

Catat semua revisi-revisi selama sidang. Untuk moderator, biasanya minta tabulasi daftar revisi gitu. Atur waktu sebaik mungkin kalau dipepet waktu.

  • Minta tdt pembimbing dan prodi

Jika sudah final, saatnya minta tdt. Minta ke pembimbing dulu, lalu ke prodi.

  • Serahkan final tesis ke loket pasca 

Final tesis sudah dijilid, ya. Buat minimal 4 rangkap, yaitu untuk prodi, 2 pembimbing, dan perpus. Karena pengalaman S1 print skripsi gak kepake juga, jadi aku gak cetak untuk diri sendiri. Lebih 1 rangkap rencananya mau buat Pemda Pemalang (ntah kapan diberikan). Alangkah baiknya kalau gak dipepet waktu. Dampaknya adalah terhadap harga jilid. Haha. Waktu itu aku dapat harga 45K/tesis di xxx (mendadak lupa namanya, yang posisinya pas di deket pengkolan berlin). Disitu menerima jilid sampai malam untuk jadi esok paginya. Satu tempat lagi yang lebih murah adalah xxx (ea, lupa juga). Disitu 30K standar (esok jadinya), ekspres kalau gak salah 40K. Kayaknya orang2 pada kesitu deh. Waktu itu aku sore mau jilid kesana udah full booked. Kalau mau, di harga 60K itu juga jadinya siang. Kirain udah gak ada tempat lain, sampai akhirnya nemu yang di pengkolan berlin itu. Dia ada cabang di bara juga katanya. Jadi gak sampai kudu ke gundaling/tempat yang nun jauh, sih.

  • Serahkan final tesis yang sudah ditdt dekan kepada ybs

Serahkan kepada ybs, yaitu prodi, pembimbing, dan perpus. Ada form bukti penyerahan tesis yang harus ditandatangani oleh ybs. Pada saat penyerahan ke perpus, di loket depan kita mengurus non-aktif anggota perpus. Cetak tesis sendiri diberikan di lantai 2 ada ruangan khusus di sebelah kiri setelah naik tangga. Siapkan softcopy di flashdisk juga tidak apa-apa (tidak harus di CD). Soalnya nanti petugas hanya akan mengambil file dan memberikan kembali kepada Anda CD tersebut.

  • Ambil SKL

Form bukti penyerahan tesis diminta untuk pembuatan SKL. Jika butuh translate, bisa dilakukan dengan memberikan fotokopi SKL, transkrip, dan abstract

  • Daftar wisuda

Daftar wisuda dilakukan secara online. Jika sudah ada SKL, pendaftaran dapat dilakukan dengan melengkapi berkas dan memberikan berkas tsb ke studio foto. Be prepared yaa make-up untuk foto pas fotonya. Hehe. Di studio disediakan jas, kemeja, dan dasi untuk dipinjam saat berfoto. Ohya, 1 hal lagi yang ingin kusampaikan. Penting buat orang seperti aku yang punya pengalaman kerja namun biaya S2 sendiri. Hihihi. Jadi, saat daftar wisuda kalau gak salah ada form yang perlu diisi menanyakan pengalaman kerja. Aku gak tahu itu buat apa jadi diisi aja. Ternyata, itu berpengaruh pada asal instansi saat pemanggilan nama saat wisuda. Aku baru sadar itu ada pengaruhnya setelah melihat video wisuda GWW Channel. Tapi, aku juga tidak berikhtiar untuk meminta pengubahan data sebelum hari-H. Aku sempat mencoba pada saat hari-H, sih. Tapi ternyata hanya diganti di kertas petugas yang mengecek jumlah wisudawan yang hadir saja, tidak diganti yang untuk ditampilkan di layar. Sehingga, nama perusahaan tempatku bekerja sebelumnya jadi tercantum. So, akan disebutkan (namamu) dari (instansi tsb) gitu. Yaaa sudahlah yaa. Sudah terjadi. Haha. Kalau ada teman sejawat yang juga sedang mengurus segalanya, lebih enak. Aku kemarin ngurus sendiri. Ngurus sendiri, wisuda sendiri juga dari 1 angkatan 🙁 Yaa jadinya ada beberapa miss yang bikin ga enak juga. Kemarin sempat tanya-tanya ke angkatan atas yang lagi ngurus juga. Tapi agak terlambat memulai komunikasi. Haha. Kalau ada teman, bisa saling mengingatkan.

  • Finally, Congrats on your graduation!